Pengalaman ini sengaja ditulis berdasarkan format dalam penulisan jurnal ilmiah pada umumnya yaitu, adanya judul Pendahuluan, Pembahasan dan Kesimpulan, hal ini dilakukan melihat keefektifan dalam menjelaskan pengalaman secara empiric ketika proses latihan bersama WD. Meskipun dalam penulisan catatan proses ini, sengaja tidak menggunakan kutipan apapun, untuk menjaga kemurnian peristiwa yang pernah didapat dan rasakan, sebab pada saat proses penciptaan karya, sampai pada pementasan berlangsung, Mas WD sebagai sutradara, tidak pernah menyebutkan satu istilah teori pun di dalam proses penggarapan Opera besutannya. Oleh sebab itu, pesan tanda dan makna dalam karya tulis ini, akan kembali diserahkan kepada para pembaca. Sengaja menuliskan pengalaman ini, semoga bisa menambah dan memperkaya referensi bagi insan seni yang di Indonesia pada umumnya dan teater khususnya. Melihat begitu minimnya catatan proses yang terlahir di negeri ini sebagai referensi yang bisa dibaca oleh generasi selanjut...
Kenapa slama ini istilah kampret begitu membumi untuk senjata membuly bagi sebagian orang? Krena secara logika kampret itu tidurnya terbalik, jadi otaknya terisi oleh taiknya sendiri. Terus kampret itu aktifnya malam hari, disaat orang sudah pada tidur si kampret ini malah beraktivitas, nah ini menjadi sindiran bagi orang yang dinyatakan sebagai Kampret. Menurut saya stop menggunakan istilah kampret bagi orang lain. Sebab Allah SWT tidak suka jika makhluk ciptaannya yang indah harus diganti menjadi kampret. Oke sampai disini mungkin netizen punya istilah bary sebagai kata pengganti Kampret?
Komentar
Posting Komentar